Madzahibul Mufassirin - Tafsir Maudhui

Madzahibul Mufassirin - Tafsir Maudhui


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pengkajian sebuah surat Al-Qur’an sebagai satu kesatuan yang utuh memang akan menghasilkan penafsiran yang memuaskan, apalagi di dalamnya dijelaskan misinya secara umum dan khusus, serta keterkaitan antara tema-tema yang ada sehingga akan nampak keseragamannya. Ulama yang menempuh metode penafsiran maudhu’i seperti ini diantaranya adalah Al-Alamah, Al-Fakr Razi yang amat berjasa dalam memulai penafsiran secara maudhu’i ini. Metode ini juga digunakan oleh DR. Muhammad Mahmud hijazi dalam Tafsir al-Wadhih, di dalam al-Muwafaqot, As-Syatibhi juga menulis sebuah kajian menarik tentang persoalan metode maudhu’i ini. Beliau berkata: “satu surat, walaupun memiliki hukum dan makna yang berbeda, tetapi sessungguhnya memiliki tujuan yang seragam”.

Adapun untuk menghimpun seluruh ayat yang berkaitan dengan satu tema besar, dengan mengumpulkan ayat-ayat yang serupa maka digunakanlah metode maudhu’i ini. Dalam makalah ini kami akan sedikit mencoba menguraikan tentang tafsir maudhu’i serta hal-hal yang berkaitan dengannya.

  1. Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian dan bagaimana sejarah perkembangan tafsir maudhu’i?

2. Bagaimana langkah-langkah dan macam-macam metode maudhu’i?

3. Apa Kelebihan dan kekurangan metode maudhu’i?

4. Apa Urgensi metode maudhu’i?

5. Apa Kedudukan metode maudhu’i diantara metode tafsir lainnya?

6. Bagaimana Perbedaan metode maudhu’i dengan metode tafsir lainnya?

7. Apa Contoh penafsiran dengan menggunakan metode maudhu’i?

  1. Tujuan Pembahasan

Tujuan pembahasan makalah ini adalah memperkenalkan secara singkat tentang metode tafsir maudhu’i dan apa saja yang berkaitan denganya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian dan sejarah perkembangan Tafsir Maudhu’i

Kata maudhu’i yang dinisbatkan pada kata al-maudhu’, yang berarti topik atau materi suatu pembicaraan atau pembahasan. Dalam kamus al-Munawir dijelaskan bahwa kata maudhu’ adalah derivasi dari kata wadha’a yang berkedudukan sebagai isim maf’ul yang berarti masalah.[1] Secara semantik, tafsir maudhu’i berarti penafsiran al-Qur’an menurut tema atau topik tertentu. Dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan dengan tafsir tematik.[2]

Yang dimaksud dengan metode tematik ialah cara mengkaji dan mempelajari ayat al-Qur'an dengan menghimpun ayat-ayat al-Qur'an yang mempunyai maksud sama, dalam arti sama-sama membicarakan satu topik masalah menyusunnya berdasar kronologi serta sebab turunnya ayat-ayat itu. Kemudian penafsir mulai memberikan keterangan dan penjelasan serta mengambil kesimpulan.[3]

Menghimpun seluruh ayat al-Qur'an yang memiliki tujuan dan tema yang sama sesuai yang diinginkan penafsir. Setelah itu kalau memungkinkan disusun berdasarkan kronologis turunnya dengan memperhatikan sebab-sebab turunnya.[4] Semua ayat yang berkaitan tersebut dihimpun, kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya, seperti asbab al-nuzul, kosakata, dan sebagainya. Semua dijelaskan dengan rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik argumen itu berasal dari al-Qur’an, hadits maupun pemikiran rasional.

Dalam sejarahnya, sebenarnya metode maudhu’i sudah ada sejak zaman Rasululllah SAW, yaitu ketika Rasul ingin menjelaskan kepada para sahabat bahwa ketidakjelasan sebuah ungkapan dalam al-Qur’an dapat diselesaikan dengan ungkapan lain yang ada dalam al-Qur’an. Hal ini dapat kita lihat ketika Nabi menjelaskan surat al-Baqarah ayat 37

#¤)n=tGsù ãPyŠ#uä `ÏB ¾ÏmÎn/§ ;M»yJÎ=x. z>$tGsù Ïmøn=tã 4 ¼çm¯RÎ) uqèd Ü>#§q­G9$# ãLìÏm§9$#

kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Untuk menjelaskan kata “kalimat” pada firman Allah diatas, Nabi mengemukakan ayat:

Ÿw$s% $uZ­/u !$oY÷Hs>sß $uZ|¡àÿRr& bÎ)ur óO©9 öÏÿøós? $uZs9 $oYôJymös?ur ¨ûsðqä3uZs9 z`ÏB z`ƒÎŽÅ£»yø9$#

keduanya berkata: "Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi.”

Contoh lain, dapat kita lihat dalam riwayat yang disampaikan oleh Ahmad al-Bukhari, Muslim, dan lainnya dari Ibn Mas’ud yang menceritakan bahwa tatkala turun QS. al-An’am ayat 82:

tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä óOs9ur (#þqÝ¡Î6ù=tƒ OßguZ»yJƒÎ) AOù=ÝàÎ/

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik)…”

Para sahabat merasa kebingungan dan bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah di antara kami yang tidak pernah mendzalimi diri sendiri?” Beliau menjawab, “Hal itu bukan seperti yang kalian kira. Bukankah kalian pernah mendengar perkataan Luqman al-Hakim bahwa kemusyrikan merupakan kedzaliman yang besar?[5] Itulah maksudnya.

Dalam mengomentari penafsiran Nabi di atas, DR. Ali Khalil mengatakan, Rasulullah SAW sebenarnya ingin memberi tahu kepada para sahabatnya bahwa ketidakjelasan sebuah ungkapan dalam al-Qur'an dapat diselesaikan dengan melihat ungkapan lain dalam al-Qur'an. Ia ingin menunjukkan kepada kita bahwa sebenarnya benih tafsir maudhu’i sudah ditanam oleh Nabi sendiri.[6]

Adapun penafsiran dengan metode ini sebenarnya juga mulai dirintis oleh ulama-ulama tafsir klasik, seperti Fakhruddin al-Razi. Namun, pada masa berikutnya beberapa ulama lebih menekuninya secara serius. Di antara kitab tafsir yang dimasukkan dalam kategori ini misalnya at-Tafsir al-Wadlih karya Muhammad Mahmud al-Hijaziy, dan Tafsir al-Maudhu’ li Suwar al-Qur’an al-Karim karya Muhammad al-Ghozali.[7]

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode tematik bukanlah sebuah metode penafsiran baru. Karena ulama masa lampau telah banyak mengkajinya kendati belum sampai pada taraf model penafsiran tematik sebagaimana yang berkembang sekarang dalam bentuk pengertian, rumusan, dan langkah-langkah kongkrit.

Penafsiran tematik secara spesifik dan lebih sistematis baru dilakukan oleh Ahmad al-Sayyid al-Kumi (ketua fakultas ushuluddin universitas al-Azhar), yang diikuti oleh kolega-kolega dan para mahasiswanya. Sebagai sebuah fakultas yang didalamnya membidangi al-Qur’an pada jurusan tafsir hadits, maka karya-karya tafsir tematik banyak bermunculan seiring dengan animo mahasiswa tafsir terhadap kajian tematik. Dalam perkembangan selanjutnya, metode tematik ini disempurnakan oleh al-Farmawi dan kawan-kawannya.

Adapun kitab-kitab tafsir yang berhubungan dengan metode tematik ini, di antaranya kitab Min Huda al-Qur’an karya Muhammad Syaltut, al-Insan fi Al-Qur’an,dan Al-Marah fi Al-Qur’an (keduanya karangan Mahmud al-‘Aqqad), dan Al-Riba fi Al-Qur’an karangan Al-Maudhudi,[8] Muqawamat al-Insan fi al-Qur’an karya Ahmad Ibrahim al-Mahna, tafsir Surah al-Fatihah, karya sayyid al-Kumi Tafsir surah Yasin karya Hasan al-‘Aridl, dan lain-lain.[9]

B. Langkah-langkah dan Macam Metode Tematik

Metode ini juga disebut dengan metode tematik karena pembahasannya berdasarkan pada tema-tema tertentu yang terdapat dalam al-Qur’an. Ada dua cara dalam tata kerja metode tafsir maudhu’i: Pertama, dengan cara menghimpun seluruh ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang satu masalah (maudhu’/tema) tertentu serta mengarah kepada satu tujuan yang sama, sekalipun turunya berbeda dan tersebar dalam berbagai surah al-Qur’an. Kedua, penafsiran yang dilakukan berdasarkan surat al-Qur’an.

Al-Farmawi mengemukakan langkah-langkah yang mesti dilakukan apabila seseorang ingin menggunakan metode maudhu’i, langkah-langkah tersebut adalah :[10]

1. Memilih atau menetapkan masalah atau topik bahasan setelah menentukan batasan dan mengetahui jangkauan yang akan di kaji secara maudhu’i dalam ayat al-Qur’an.

2. Melacak dan menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut.

3. Menyusun ayat-ayat tersebut secara runtut menurut kronologi turunnya (Makiyah dan Madaniyah), disertai pengetahuan mengenai latar belakang turunnya atau sabab al-nuzul.

4. Mengetahui hubungan (munasabah) ayat-ayat tersebut dalam masing-masing surahnya.

5. Menyusun tema bahasan dalam kerangka yang pas, utuh, sempurna dan sistematis.

6. Melengkapi uraian dan pembahasan dengan hadits bila dipandang perlu, sehingga pembahasan semakin sempurna dan jelas.

7. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara tematik dan menyeluruh dengan cara menghimpun ayat-ayat yang mengandung pengertian yang serupa, mengkompromikan antara pengertian yang ‘amm dan khash, muthlaq muqayyad, mengsingkronkan ayat-ayat yang lahirnya kelihatan terkesan kontradiktif, menjelasakan ayat nasikh dan mansukh sehingga semua ayat tersebut bertemu pada suatu muara, tanpa suatu perbedaan dan kontradiksi atau tindakan pemaksaan terhadap sebagian ayat kepada makna yang kurang tepat.[11]

8. Menyusun kesimpulan yang menggambarkan jawaban dari al-Qur'an terhadap masalah yang dibahas.

Beberapa prinsip penafsiran yang perlu dipegangi dalam menggunakan metode maudhu’i, antara lain:

1. Memberikan penjelasan terhadap lafad-lafad atau ayat masing-masing, dalam rangka tujuan pembahasan;

2. Tidak menyimpang dari masalah pokok pembahasan;

3. Penafsir hendaknya menetapi langkah-langkah seperti telah ditatapkan dan kaidah-kaidah lainnya untuk menghindari kekeliruan yang terjadi;

4. Tidak memilih ayat tertentu atau sebaliknya menolak ayat lainnya berdasarkan keinginan atau kepentingan justifikasi teori dan konsepsi sendiri;

5. Untuk menghindari keterlibatan pemikirian (al-ra’yu) yang berlebihan, hendaknya dalam menafsirkan tetap memakai al-Qur'an sebagai rujukan utama atau alat uji penafsiran.[12]

Secara umum, macam-macam tafsir tematik diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:

1. Mengkaji sebuah surat dengan kajian universal (tidak parsial), yang di dalamnya dikemukakan misi awalnya, lalu misi utamanya, serta kaitan antara satu bagian surat dan bagian lain, sehingga wajah surat itu mirip seperti bentuk yang sempurna dan saling melengkapi.[13] Biasanya pesan tersebut diisyaratkan oleh nama surat yang dirangkum pesannya, selama nama tersebut bersumber dari informasi Rasul SAW. Misalnya surat al-Kahfi, yang arti harfiahnya “Gua”. Dalam uraiannya, gua tersebut dijadikan tempat perlindungan sekelompok pemuda yang menghindar dari kekejaman penguasa zammannya. Dari nama ini diketahui bahwa surat tersebut dapat memberi perlindungan bagi yang menghayati dan mengamalkan pesan-pesannya. Dari sini setiap ayat atau kelompok ayat yang terdapat dalam surat al-Kahfi, diupayakan untuk mengaitkannya dengan makna perlindungan.[14]

Tafsir tematis bentuk pertama ini sebenarnya sedah lama dirintis oleh ulama-ulama tafsir periode klasik, seperti Fakhr al-Din alRazi. Namun pada masa belakangan beberapa ulama tafsir lebih menekuninya secara seius. Contoh kitab tafsir bentuk ini adalah a-Tafsir alWadhih (tafsir yang terang) karya Muhammad mahmud al-Hijazi.

2. Tafsir yang menghimpun dan menyusun ayat-ayat al-Qur'an yang memiliki kesamaan arah dan tema, kemudian memberikan penjelasan dan mengambil kesimpulan, di bawah satu bahasan tema tertentu.[15]

3. Menghimpun seluruh ayat al-Qur'an yang berbicara tentang tema yang sama. Semuanya diletakkan di bawah satu judul, lalu ditafsirkan dengan metode maudhu’i. Jika disebut tafsir maudhu’i, konotasi seperti inilah yang dimaksud. Bagian kedua inilah yang akan menjadi fokus pembahasan makalah.[16]

C. Kelebihan dan Kekurangan Metode Tematik

1. Kelebihan

Jika kita bandingkan dengan metode-metode lain, tafsir tematik/maudhu’I memiliki beberapa kelebihan. Di antara kelebihan metode ini ialah sebagai berikut:

a. Menjawab tantangan zaman

Permasalahan dalam kehidupan selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan itu sendiri. Semakin modern kehidupan, permasalahan yang timbul semakin kompleks dan rumit, serta mempunyai dampak yang luas. Hal itu dimungkinkan karena apa yang terjadi pada suatu tempat, pada saat yang bersamaan, dapat disaksikan oleh orang lain di tempat yang lain pula, bahkan peristiwa yang terjadi di ruang angkasa pun dapat dipantau dari bumi. Kondisi serupa inilah yang membuat suatu permasalahan segera merebak ke seluruh masyarakat dalam waktu yang relatif singkat.

Untuk menghadapi permasalahan yang demikian, dilihat dari sudut tafsir al-Qur'an , tidak dapat ditangani dengan metode-metode penafsiran selain tematik. Hal itu dikarenakan kajian metode tematik ditujukan untuk menyelesaikan permasalahan. Itulah sebabnya metode ini mengkaji semua ayat al-Qur'an yang berbicara tentang kasus yang dibahas secara tuntas dari berbagai aspeknya sebagaimana yang telah disebutkan di awal bab ini.

b. Praktis dan sistematis

Tafsir dengan metode tematik disusun secara praktis dan sistematis dalam memecahkan permasalahan yang timbul. Kondisi semacam ini amat cocok dengan kehidupan umat yang semakin modern dengan mobilitas yang tinggi sehingga mereka seakan-akan tak punya waktu untuk membaca kitab-kitab tafsir yang besar, padahal untuk mendapatkan petunjuk al-Qur'an mereka harus membacanya. Dengan adanya tafsir tematik, mereka akan mendapatkan petunjuk al-Qur'an secara praktis dan sistematis serta dapat lebih menghemat waktu, efektif, dan efisien.

c. Dinamis

Metode tematik membuat tafsir al-Qur'an selalu dinamis sesuai dengan tuntunan zaman sehingga menimbulkan image di dalam benak pembaca dan pendengarnya bahwa al-Qur'an senantiasa mengayomi dan membimbing kehidupan di muka bumi ini pada semua lapisan dan strata sosial. Dengan demikian, terasa sekali bahwa al-Qur'an selalu aktual (updated). Dengan tumbuhnya kondisi serupa itu, maka umat akan tertarik mengamalkan ajaran-ajaran al-Qur'an karena al-Qur'an mereka rasakan betul-betul dapat membimbing mereka ke jalan yang benar.

d. Membuat pemahaman menjadi utuh

Dengan ditetapkan judul-judul yang akan dibahas, maka pemahaman ayat-ayat al-Qur'an dapat diserap secara utuh.

2. Kekurangan

Di samping mempunyai kelebihan, metode ini juga tak luput dari kekurangan yang antara lain sebagai berikut:

a. Memenggal ayat al-Qur'an

Memenggal ayat al-Qur'an yang dimaksudkan di sini ialah mengambil satu kasus yang terdapat di dalam satu ayat atau lebih yang mengandung banyak permasalahan yang berbeda. Misalnya, petunjuk tentang shalat dan zakat. Biasanya kedua ibadah itu diungkapkan bersamaan dalam satu ayat. Apabila ingin membahas kajian tentang zakat, misalnya, maka mau tak mau ayat tentang shalat harus ditinggalkan ketika menukilkannya dari mushaf agar ridak menganggu pada waktu melakukan analisis.

Cara serupa ini kadang-kadang dipandang kurang sopan terhadap ayat-ayat suci sebagaimana dianggap terutama oleh kaum tekstualis. Namun selama tidak merusak pemahaman, sebenarnya cara serupa itu tidak perlu dianggap sebagai suatu yang negatif; apalagi para ulama sejak dulu sering melakukan pemenggalan ayat-ayat al-Qur'an sesuai dengan keperluan kajian yang sedang mereka bahas seperti terdapat di dalam kitab-kitab fiqh, tauhid, tasawuf, tafsir, dan sebagainya.

b. Membatasi pemahaman ayat

Dengan ditetapkannya judul penafsiran, maka pemahaman suatu ayat menjadi terbatas pada permasalah yang dibahas tersebut. Akibatnya, mufasir terikat oleh judul itu. Padahal tidak mustahil satu ayat itu dapat ditinjau dari berbagai aspek. Dengan demikian, dapat menimbulkan kesan kurang luas pemahamannya. Kondisi yang digambarkan itu memang merupakan konsekuensi logis dari metode tematik.[17]

D. Urgensi Metode Tematik

Melihat keunggulan metode tematik bahwa metode ini memang lebih dapat diandalkan untuk menjawab permasalahan kehidupan di muka bumi ini. Itu berarti, metode berperan besar dalam kehidupan umat agar mereka dapat terbimbing ke jalan yang benar sesuai dengan maksud diturunkannya al-Qur'an.

Berangkat dari pemikiran yang demikian, maka kedudukan metode ini menjadi semakin kuat di dalam khazanah intelektual Islam. Oleh karenanya, metode ini perlu dimiliki oleh ulama, khususnya oleh para mufassir atau calon mufasir, agar mereka dapat memberikan kontribusi menuntun kehidupan di muka bumi ini ke jalan yang benar demi meraih kebahagian di dunia dan di akhirat.

Terjadinya pemahaman yang terkotak-kotak dalam memahami ayat-ayat al-Qur'an, sebagai akibat dari tidak dikajinya ayat-ayat tersebut secara menyeluruh. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan kontradiktif atau penyimpangan yang jauh dalam memahami al-Qur'an, sebagaimana telah dicontohkan ketika kita menjelaskan metode global dan analitis di atas.

Dalam metode tematik, hal itu tak akan terjadi. Jadi, berdasarkan bukti-bukti tersebut maka jelaslah bahwa metode tematik menduduki tempat yang amat penting dalam kajian tafsir al-Qur'an.[18]

E. Kedudukan Metode Maudhu’i di antara Metode Tafsir yang Lain

Metode maudhu’i (tematik) memiliki spesifikasi yang tidak dimiliki oleh metode tafsir lainnnya. Setelah mengamati secara seksama urgensi serta prosedur metode maudhu’i, siapa pun tidak akan membantah bahwa metode ini merupakan metode yang terbaik dalam menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an.

Al-Hafizh Ibnu Katsirdalam tafsirnya mengatakan: “jika ada seseorang yang bertanya; mana metode yang paling baik untuk menafsirkan al-Qur’an?, jawabannya adalah menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an sendiri sebab kandungan yang bersifat global dalam suatu ayat al-Qur’an akan dijelaskan oleh ayat lain.”

Imam as-Syuyuthi di dalam bahasan “ma’arif syuruth al-mufassir wa adabih”, menceritakan bahwa para ulama berkata: “siapa saja yang hendak menafsirkan al-Qur’an, carilah terlebih dahulu tafsiran dalam al-Qur’an sendiri. Hal ini dikarenakan kandungan yang global pada suatu tempat akan diperinci pada tempat lain; kandungan yang ringkas pada suatu tempat akan diuraikan pada tempat lain.”

Oleh karena itu, sebagaimana dikatakan oleh DR. Ahmad Mahnan: “belakangan ini banyak para peneliti yang menulis tafsir maudhu’i”. metode maudhu’I, sebagaimana yang dikatakan oleh Syakh Muhammad Syaltut, dapat mengantarkan manusia padamacam-macam petunjuk al-Qur’an. memang harus diakui bahwa tema-tema al-Qur’an bukanlah teori semata yang tidak menyentuh persoalan-persoalan manusia. Hal ini dikarenakan al-Qur’an itu sebagai petunjuk bagi manusia dan sholih likulli zaman wa makan.[19]

F. Perbedaan Metode Maudhu’i dengan Metode Tafsir Lainnya

1. Perbedaan metode maudhu’i dengan metode talili

No

Metode Tahlili

Metode Maudhu’i

1.

2.

3.

4.

5.

Mufassir terikat dengan susunan ayat sebagaimana tercantum dalam mushaf.

Mufassir berusaha berbicara menyangkut beberapa tema yang ditemukan dalam satu ayat.

Mufassir berusaha menjelaskan segala sesuatu yang ditemukan dalam satu ayat.

Sulit ditemukan tema-tema tertentu yang utuh.

Sudah dikenal sejak dahulu dan banyak digunakan dalam kitab-kitab tafsir yang ada.

Mufassir tidak terikat dengan susunan ayat dalam mushaf, tetapi lebih terikat dengan urutan masa turunnya ayat, atau kronologi kejadian.

Mufassir tidak berbicara tema lain selain tema yang sedang dikaji. Oleh karena itu, ia dapat mengangkat tema-tema al-Qur'an yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak bercampur aduk dengan tema-tema lain.

Mufassir tidak membahas segala permasalahan yang dikandung oleh satu ayat, tetapi hanya yang berkaitan dengan pokok bahasan.

Mudah untuk menyusun tema-tema al-Qur'an yang berdiri sendiri.

Walaupun benihnya ditemukan sejak dahulu, sebagai sebuah metode penafsiran yang jelas dan utuh baru dikenal belakangan saja.

2. Perbedaan metode maudhu’i dengan metode ijmali

No

Metode Ijmali

Metode Maudhu’i

1.

2.

Mufassir terikat dengan susunan mushaf.

Mufassir berusaha berbicara menyangkut beberapa tema yang ditemukan dalam satu ayat.

Mufassir tidak terikat dengan susunan mushaf.

Mufassir tidak berbicara tema lain selain tema yang dikaji.

3. Perbedaan metode maudhu’i dengan metode muqaran

No

Metode Muqaran

Metode Maudhu’i

1.

2.

Mufassir menjelaskan al-Qur'an dengan apa saja yang ditulis oleh para mufassir.

Mufassir terikat dengan uraian para mufassir.

Mufassir tidak berbicara tema lain selain tema yang sedang dikaji.

Mufassir tidak terikat dengan uraian para mufassir.[20]

G. Contoh Penafsiran dengan Menggunakan Metode Maudhu’i

Untuk membantu pemahaman secara praktis dari teori-teori di atas, maka di bawah ini akan disebutkan satu sampel dari bentuk penafsiran maudhu’i yang dilakukan oleh Farmawi.

Dengan judul Ri’ayat al-Yatim fi al-Qur’an al-Karim, al-Farmawi melakukan langkah-langkah penafsiran sebagai berikut:

1. Mengumpulkan ayat-ayat yang berhubungan dengan anak yatim sekaligus mengelompokkan ayat-ayat tersebut ke dalam Makiyah dan Madaniyah. Makiyah sebanyak 5 ayat dan madaniyah 17 ayat.

2. Berdasarkan ayat-ayat tersebut, al-Farmawi kemudian menetapkan sub-sub bahasan, yaitu tentang pemeliharaan anak yatim berdasarkan:

a. Ayat-ayat makiyah dengan dua tema:

1) Pemeliharaan diri/fisik, dengan mengacu pada 4 ayat:

2) Pemeliharaan harta anak yatim, bedasarkan pada 1 ayat.

b. Ayat-ayat Madaniyah yang dibagi pada tiga sub bahasan:

1) Pentingnya membina akhlak dan pendidikan anak yatim dengan berdasarkan pada 4 ayat;

2) Pemeliharaan anak yatim dengan mengacu pada 9 ayat;

3) Perintah bertinfak pada anak yatim berdasarkan 4 ayat.

3. Pada tahap permbahasan, al-Farmawi memperhatikan masa turunnya surat dan urutan-urutan ayat bila terdapat beberapa ayat dalam satu surat yang sedang dibahasnya. Demikian pula memperhatika munasabah antar ayat dan ayat yang disajikan dalam suatu kaitan rasional, sehingga uraian itu menjadi menarik. Misalnya tentang hubungan tiga ayat Makiyah.

Ayat QS. al-Dhuha: 6, yang maknanya merupakan suatu pertanyaan kepada Nabi SAW yang cukup menggugah hati bila dihubungkan dengan latar belakang dirinya yang yatim itu. Kemudian disusul oleh ayat QS. al-Dhuha: 9, yakni suatu tuntutan kepada kaum muslimin untuk menghormati atau menyayangi anak yatim, dan sebaliknya tidak boleh berbuat sewenang-wenang. Kemudian dihubungkan dengan ayat 17 dari al-Fajr, yang maknanya allah SWT mengecam para hartawan yang memperhatikan anak yatim itu.

Ayat ketiga ini semacam peringatan keras kepada setiap orang untuk segera tampil sebagai pembela anak yatim. Peringatan ini mengundang para sahabat untuk bertanya kepada Rasul SAW tentang kewajiban bagaimana melakukan pembelaan terhadap anak yatim itu? Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh Allah SWT seperti yang terdapat dalam surat yang turun di Madinah, QS. al-Baqarah: 220.

Secara keseluruhan, rangkaian pembahasan yang bersifat tematik itu adalah upaya untuk menemukan jawaban dari ayat-ayat al-Qur'an tentang anak yatim, sehingga uraiannya sudah terpola pada penekanan tertentu seperti itu. Demikian pula kutipan tentang hadis Nabi SAW adalah sebatas yang berkaian dengan tema ini.[21]

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Metode tematik ialah cara mengkaji dan mempelajari ayat al-Qur'an dengan menghimpun ayat-ayat al-Qur'an yang mempunyai maksud sama. Sejarah metode maudhu’i sudah ada sejak zaman Rasululllah SAW, akan tetapi penafsiran dengan menggunakan metode ini sebenarnya juga mulai dirintis oleh ulama-ulama tafsir klasik, seperti Fakhruddin al-Razi, yang kemudian Penafsiran tematik secara spesifik dan lebih sistematis baru dilakukan oleh Ahmad al-Sayyid al-Kumi, yang diikuti oleh kolega-kolega dan para mahasiswanya. Yang selanjutnya disempurnakan oleh al-Farmawi dan kawan-kawannya dan berkembang sampai sekarang.

Adapun langkah dan macam metode maudhu’I adalah seperti yang telah kami utarakan di atas. Kelebihan metode ini adalah: mampu menjawab tantangan zaman, praktis dan sitematis, bersifat dinamis, dan memberikan pemahaman secara utuh. Adapun kelemahannya adalah: memenggal ayat al-Qur’an dan membatasi pemahaman suatu ayat.

metode maudhu’i merupakan metode yang terbaik dalam menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an. Hal ini dikarenakan kandungan yang global pada suatu tempat akan diperinci pada tempat lain; kandungan yang ringkas pada suatu tempat akan diuraikan pada tempat lain. mengenai perbedaan metode ini dengan metode-metode penafsiran yang lainnya telah kami uraikan secara gambang dalam pembahasan di atas, begitu juga dengan contoh penafsiran dengan menggunakan metode ini.

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Al-Farmawi, Abdul Hayy, 2002, al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’i, (penerjemah) Rosihon Anwar, Metode Tafsir Maudhu’I, Bandung: Pustaka Setia.

Al-Farmawi, Abd al-Hay, 1977, Muqaddimah fi al-Tafsir al-Maudhu’i, Kairo : al-Hadharah al-‘Arabiyah.

Baidan, Nasruddin, 2000, Metodologi Penafsiran al-Qur'an, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Khaeruman, Badri, 2004, Sejarah Perkembangan Tafsir al-Qur'an, Bandung: CV Pustaka Setia.

Munawir, Ahmad Warson, 2002, Kamus al-Munawir Arab-Indonesia Terlengkap, Surabaya: Pustaka Progresif.

Rohimin, 2007, Metodologi Ilmu Tafsir dan Aplikasi Model Penafsiran, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Salim, Abd. Muin , 2005, Metodologi Ilmu Tafsir, Yogyakarta : Teras.

Shihab, M. Quraish, 2003, Wawasan al-Qur'an, Bandung: PT Mizan Pustaka.

Shihab, M. Quraish, dkk, 2001, Sejarah dan ‘Ulumu al-Qur'an, Jakarta: Pustaka Firdaus.

Usman, 2009, Ilmu tafsir, Yogyakarta: Teras.



[1] Ahmad Warson Munawir, Kamus al-Munawir Arab-Indonesia Terlengkap, Pustaka Progresif, Surabaya, 2002, hlm. 1565.

[2] Usman, Ilmu tafsir, Teras, Yogyakarta, 2009, h. 311

[3] Rohimin, Metodologi Ilmu Tafsir dan Aplikasi Model Penafsiran, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2007, hlm, 75.

[4] Abdul Hayy al-Farmawi, al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’i, (penerjemah) Rosihon Anwar, Metode Tafsir Maudhu’I, Pustaka Setia, Bandung, 2002, hlm. 43-44.

[5] QS. Luqman : 3

øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ

dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

[6] Abdul Hayy al-Farmawi, al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’i, ……. hlm. 45.

[7] Usman, Ilmu tafsir,..... h. 312

[8] Nasruddin Baidan, Metodologi Penafsiran al-Qur'an, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000, hlm. 151

[9] Usman, Ilmu Tafsir, ….., h. 314

[10] Lihat ‘Abd al-Hay al-Farmawi, Muqaddimah fi al-Tafsir al-Maudhu’i, (Kairo : al-Hadharah al-‘Arabiyah, 1977), hlm. 61-62.

[11] Abd. Muin Salim, Metodologi Ilmu Tafsir, (Yogyakarta : Teras, 2005 ), hlm. 48.

[12] Badri Khaeruman, Sejarah Perkembangan Tafsir al-Qur'an, CV Pustaka Setia, Bandung, 2004, hlm. 104.

[13] Abdul Hayy al-Farmawi, al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’i, …… hlm. 42.

[14] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur'an, PT Mizan Pustaka, Bandung, 2003, hlm. xii-xiii.

[15] M. Quraish Shihab, dkk, Sejarah dan ‘Ulumu al-Qur'an, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001, hlm. 192-193.

[16] Abdul Hayy al-Farmawi, al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’i,…… hlm. 43.

[17] Nasruddin Baidan, Metodologi Penafsiran al-Qur'an,……. hlm. 165-169.

[18] Ibid., hlm. 169-170.

[19] Abdul Hayy al-Farmawi, al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’i, …….. hlm. 52-53

[20] Ibid., hlm. 53-55.

[21] Badri Khaeruman, Sejarah Perkembangan Tafsir al-Qur'an,….. hlm. 104-106.

Copyright © 2009 - Laftlaft Etikazisme - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template