Psikologi Agama Pada Dewasa dan Lansia

Psikologi Agama Pada Dewasa dan Lansia


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam suatu periode hidup manusia, terdapat fase-fase tertentu yang harus dilewati antara lain : fase prenatal, bayi baru lahir, masa bayi, masa kanak-kanak, masa anak-anak, masa puber, masa remaja, masa dewasa, usia madya dan usia lanjut.

Salah satu fase yang paling sering dibicarakan dan menarik perhatian para psikolog adalah fase madya dan fase lanjut usia (manula). Hal ini dikarenakan timbulnya karakter dan kebiasaan unik yang dimilki oleh seseorang ketika memasuki usia lanjut yaitu berkisar antara umur 70-100 tahun atau sampai meninggal. Apa dan bagaimana usia lanjut tersebut, dan bagaimana hubungannya usia lanjut dengan kehidupan beragama, akan dipaparkan secara singkat dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian lanjut usia ?

2. Apa sajakah ciri-ciri perkembangan jiwa dan fisik pada usia lanjut ?

3. Bagaimana menyikapi usia lanjut dan ketakutan akan mati ?

4. Bagaimana usaha pembinaan agama pada usia lanjut ?

5. Bagaimana perlakukan Islam terhasap usia lanjut ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui apa pengertian lanjut usia.

2. Untuk mengetahui apa sajakah ciri-ciri perkembangan jiwa dan fisik pada usia lanjut.

3. Untuk mengetahui bagaimana menyikapi usia lanjut dan ketakutan akan mati.

4. Untuk mengetahui bagaimana usaha pembinaan agama pada usia lanjut.

5. Untuk mengetahui bagaimana perlakukan Islam terhasap usia lanjut.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Usia Lanjut

Usia lanjut atau usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Yaitu suatu periode di mana seseorang telah “beranjak jauh” dari perode terdahulu yang lebih menyenangkan. Pada usia ini seseorang sering mengingat-ingat masa lalunya, biasanya dengan penuh penyesalan.

Usia 40-an pada umumnya dianggap sebagai garis pemisah antara usia madya dan usia lanjut. Pada dasarnya kronologis usia tidak bisa dipastikan secara spesifik karena setiap individu memilki perbedaan waktu saat usia lanjutnya dimulai. Tahap terakhir dalam rentang kehidupan ini dibagi menjadi dua fase, yaitu : usia lanjut dini (antara usia 60-70 tahun) dan usia lanjut dini (70 tahun-meninggal).[1]

B. Ciri Perkembangan Jiwa dan Fisik Pada Usia Lanjut

Adapun ciri-ciri kejiwaan yang biasa terjadi pada para usia lanjut, antara lain :

1. Memerlukan waktu yang lama dalam belajar dan sulit mengintegrasikan jawaban atas pertanyaan.

2. Terjadi penurunan kecepatan dalam berfikir dan lambat dalam menarik kesimpulan.

3. Penurunan kapasitas berfikir kreatif.

4. Cenderung lemah dalam mengingat hal-hal yang baru saja dipelajari maupun yang telah lalu.

5. Kecenderungan untuk mengenang sesuatu yang terjadi pada masa lalu.

6. Berkurangnya rasa humor.

7. Menurunnya perbendaharaan kata, karena lebih konstan mereka menggunakan kata-kata yang pernah dipelajri pada masa anak-anak dan remaja.

8. Kekerasan mental meningkat dan tidak mampu mengontrol diri (egois).

9. Merasa dirinya tidak berharga atau kurang berharga.[2]

Sedangkan ciri-ciri fisik para usia lanjut antara lain sebagai berikut :

1. Penampilan

a. Daerah kepala : hidung menjulur lemas, bentuk mulut berubah akibat hilangnya gigi, mata pudar, dagu berlipat, pipi berkerut, kulit kering, rambut menipis dan beruban.

b. Daerah tubuh : bahu membungkuk dan tampak mengecil, perut membesar dan buncit, pinggul mengendor, dan garis pinggang melebar.

c. Daerah persendian : pangkal tangan dan kaki mengendor, tangan menjadi kurus, kuku kaki dan tangan menebal.

2. Indrawi

a. Penurunan kemampuan melihat objek dan sensitivisme terhadap warna berkurang.

b. Cenderung kehilangan kemampuan mendengar nada-nada tinggi.

c. Berkurangnya kemampuan indra perasa karena berhentinya saraf-saraf di daerah lidah.

d. Kepekaan penciuman berkurang yang disebabkan oleh berhentinya pertumbuhan sel-sel dalam hidung.

e. Berkurangnya sensitivitas terhadap rasa sakit.

3. Kemampuan Motorik

a. Kekuatan, memerlukan waktu lebih lama untuk pulih dari kelelahan.

b. Kecepatan, menginjak usia 40 tahun manusia sudah mulai mengalami penurunan dalam kecepatan bergerak.

c. Belajar keterampilan baru, para usia lanjut lebih berkeyakinan bahwa belajar keterampilan lebih menguntungkan walaupun mereka mengalami kesulitan dalam belajar.

d. Cenderung canggung dan kagok karena kerusakan dalam sel-sel motoriknya.

C. Usia Lanjut dan Ketakutan Akan Kematian

Semakin lanjut usia seseorang, semakin sering pula mereka memirkan tentang kematian. Hal ini dipicu oleh kondisi mental dan fisik yang semakin memburuk. Kekhawatiran ini biasanya terkait dengan peningkatan rasa keagamaan, cenderung lebih taat beribadah dan melakukan aktivitas-aktivitas sosial yang bermanfaat. Adapun pertanyaan-pertanyaan yang seringkali timbul di hati para lanjut usia antara lain :

1. Kapankah kematian akan datang?

2. Apa sajakah kira-kira yang menyebabkan kematian?

3. Bisakah saya mendapatkan kematian seperti yang saya inginkan?

4. Bunuh diri, bolehkah ?

5. Bagimana agar bisa meninggal dengan baik ?

Tentang proses-proses kejadian manusia sejak dari bahan mentahnya berupa gumpalan tanah sehingga akhirnya mati kembali ke tanah sebagaimana dijelaskan al-Qur’an berikut :

uqèd Ï%©!$# Nà6s)n=s{ `ÏiB 5>#tè? §NèO `ÏB 7pxÿõÜœR §NèO ô`ÏB 7ps)n=tæ §NèO öNä3ã_̍øƒä WxøÿÏÛ §NèO (#þqäóè=ö7tFÏ9 öNà2£ä©r& ¢OèO (#qçRqä3tFÏ9 %Y{qãŠä© 4 Nä3ZÏBur `¨B 4¯ûuqtGム`ÏB ã@ö6s% ( (#þqäóè=ö7tFÏ9ur Wxy_r& wK|¡B öNà6¯=yès9ur šcqè=É)÷ès? ÇÏÐÈ

67. Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). (QS. Al Mu’min 67).

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Allah-lah yang menciptakan manusia dari tanah, kemudian dari setetes mani, sesudah itu menjadi segumpal darah, kemudian dilahirkan manusia manusia sebagi seorang bayi, kemudian menjadi anak-anak, remaja, dewasa, hingga usia lanjut. Di anatra manusia sesuai dengan takdir Sang Pencipta tidak semuanya diberi umur panjang, namun mati sebelum masa tua dan sebagian diberi umur panjang hingga meninggal melewati usia lanjut bahkan tua renta.

Hal ini tentunya dapat dipahami oleh setiap manusia bahwa siapapun, di manapun, kapanpun pada akhirnya akan mengalami kematian. Dengan demikian kematian seharusnya disikpai dengan memperbanyak amal shaleh sebagai persiapan bukan ketakutan pada kematian itu sendiri. Karena takut maupun tidak takut pada akhirnya kematian akan datang.[3]

D. Pembinaan Agama Pada Usia Lanjut

Terdapat tiga perubahan regresi yang dialami oleh manusia lanjut usia adlaah perubahan fisik, mental dan sosial. Perubahan ini akan berakibat pada kemampuan untuk mengontrol dirinya sendiri. Efek-efek tersebut menentukan apakah pria atau wanita usia lanjut akan melakukan penyesuaian diri secara baik atau buruk. Akan tetapi ciri-ciri usia lanjut cenderung menuju dan membawa penyesuaian diri yang buruk dan cenderung membawa kepada kesengsaraan.

Hurlock (1999) menyatakan bahwa usia lanjut lebih cenderung-cenderung pada hal-hal yang tidak menyenangkan dan hal ini dapat berimbas pada penurunan fisik atau psikis. Sehingga dibutuhkan tawakkal (penerimaan diri) yang baik serta kontrol diri yang tinggi agar individu tidak terjerumus pada hal-hal negatif yang membawa pada tekanan mental.

Dalam masyarakat Islam, praktik psikoterapi juga telah diterapkan bahkan ada yang sudah dilembagakan. Fungsi sebagai psikoterapis banyak diperankan oleh para tokoh agama atau ulama, guru, sufi/tarekat atau kyai yang dianggap memilki kelebihan-kelebihan spiritual atau supranatural.

Suatu analisis dari studi penelitian yang berhubungan dengan kegiatan keagmaan pada usia tua membuktikan bahwa ada fakta-fajta tentang meningkatnya minat terhadap agama sejalan dengan bertambahnya usia dan ada pula fakta-fakta yang mennujukkan penurunan minta terhadap agama pada usia tersebut. Covalt menyebutkan bahwa : sikap sebagian besar orang berusia lanjut terhadap agama mungkin lebih sering dipengaruhi oleh bagaimana mereka dibesarkan atau apa yang telah diterima apada saat mencapai kematangan intelektualnya. Adapaun ciri-ciri keberagaman pada usia lanjut antara lain (Jalalauddin 2004: 105-106) :

1. Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kematangan.

2. Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.

3. Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh.

4. Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antar sesama manusia , serta sifat-sifat luhur.

5. Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya.

6. Perasaan takut kepada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (akhirat).

Berdasarakan ciri-ciri di atas, terdapat tiga kegiatan keagamaan yang bisa menjadi terapi religius bagi para lanjut usia sekaligus untuk menyetabilkan kontrol dalam dirinya. Hal ini merujuk kepada sebuah hasil penelitian tentang korelasi zikir diri pada para lanjut usia yang dilakukan di Pondok Pesantren Roudhotul Ulum Kencong Pare Kediri, yaitu :

1. Teknik Puasa. Puasa merupakan salah satu kewajiban ritual umat Islam. Efek positif puasa secara fisik dan psikologis telah diakui oleh para ahli, salah satu diantaranya adalah untuk mengontrol hawa nafsu secara umum. Dalam konteks terapi “puasa” yag berarti pengendalian diri dapat diterapkan untuk mengembangkan kontrol diri terhadap suatu jenis nafsu tertentu.

2. Teknik Paradoks. Teknik ini dilakukan untuk menumbuhkan kontrol diri terhadap hal-hal yang sangat disukai seseorang. Tujuannya agar seseorang mampu mengendalikan suatu keinginan dengan cara melawan keinginan tersebut.

3. Teknik Dzikrullah. Teknik ini dilakukan dengan cara mengingat nikmat-nikmat Allah dan atau menyebut lafadz-lafadz Allah, bertahlil, bertahmid, bertasbih dan bertaqdist agar tercipta ketenangan pada dirinya.

Tindakan tersebut dilakukan berdasarkan firman Allah dalam surat al Ra’du ayat 28, yaitu :

tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% ̍ø.ÉÎ/ «!$# 3 Ÿwr& ̍ò2ÉÎ/ «!$# ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ

28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Dari ayat tersebut secara gamblang menunjukkan bahwa sesungguhnya zikir itu mengandung daya terapi yang potensial dan mengarahkan pada ketenangan dan ketentraman hati. Selain itu orang mukmin yang melakukannya juga akan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Secara psikologis, zikir akan berakibat pada perkembangan penghayatan para lanjut usia akan kehadiran Allah yang senantiasa mengetahui segala tindakan yang nyata (overt) dan tindakan yang tersembunyi (convert). Ia tidak akan merasa hidup sendirian di dunia ini, karena ada dzat yang Maha Mendengar keluh kesahnya yang mungkin tidak dapat diungkapkan kepada siapapun sehingga berakibat pada ketenangan jiwanya.[4]

E. Perlakuan Terhadap Usia Lanjut Menurut Islam

Agama Islam adalah agama yang sempurna, segala sesuatunya diatur secara sistematis sehingga tidak memberatkan umat manusia. Islam juga mengatur bagaimana sebaiknya meperlakukan para usia lanjut, Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al Israa’ ayat 23 yang artinya :

* 4Ó|Ós%ur y7/u žwr& (#ÿrßç7÷ès? HwÎ) çn$­ƒÎ) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7tƒ x8yYÏã uŽy9Å6ø9$# !$yJèdßtnr& ÷rr& $yJèdŸxÏ. Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& Ÿwur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJƒÌŸ2 ÇËÌÈ

23. dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.

Dari ayat diatas dapat kita fahami bahwa Islam menganjurkan kita memperlakukan orang tua (terutama yang sudah berusia lanjut) lebih teliti dan lebih telaten. Perlakuan terhadap orang tua yang sudah berusia lanjut dibebankan kepada anak-anak mereka, bukan kepada anak-anak mereka, bukan kepada badan atau panti jompo seperti yang diterapkan di Barat.

Selanjutnya Allah juga berfirman :

ôÙÏÿ÷z$#ur $yJßgs9 yy$uZy_ ÉeA%!$# z`ÏB ÏpyJôm§9$# @è%ur Éb>§ $yJßg÷Hxqö$# $yJx. ÎT$u­/u #ZŽÉó|¹ ÇËÍÈ

24. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Ayat di atas memberi anjuran kepada kita agar anak memberi perlakuan khusus dengan menghayati bagaimana kedua orang tua mengasihi anak mereka sewaktu kecil. Melalui penghayatan yang deikian manusia diingatkan pada kasih sayang dan susah payah kedua orangtuanya ketika mereka memeliharanya di waktu kecil. Dengan demikian diharapkan kasih sayang kepada kedua orang tua akan bertambah.

Dari penjelasan diatas tergambar bagaimana perlakuan kepada manusia usia lanjut menurut Islam. Manusia lanjut dipandang tak ubahnya seorang bayi yang memerlukan pemeliharaan dan perawatan serta perhatian khusus dengan penuh kasih sayang. Perlakuan yang demikian itu tidak dapat diwakilkan kepada siapapun, melainkan yang baik dan penuh kesabaran serta kasih sayang dinilai sebagai kebaktian. Sebalikanya perlakuan tercela dinilai sebagain kedurhakaan.[5]

Copyright © 2009 - Laftlaft Etikazisme - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template