Review Buku - Metodologi Ilmu Rijalil Hadis

Review Buku

Oleh : Etika, Afid, Rijal

Judul buku : Metodologi Ilmu Rijalil Hadis

Penulis : Drs. Suryadi, M.Ag

Penerbit : Madani Pustaka Hikmah, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, 2003

Tebal : 161 hlm.

ISBN : 979-9555-86-8

Hadis sebagai sumber ajaran Islam kedua jelas berbeda dengan Al Quran yang semua ayatnya diterima secara mutawatir. Sedangkan hadis tidk semuanya dapat diterima secara mutawatir. Oleh karenanya penilitian orisinalitas hadis memang sangat diperlukan agar validitasnya sebagai hadis Nabi dapat dipertanggungjawabkan. Pentingnya problem orisinalitas hadis ini telah memotivasi para Ulama Hadis melahirkan kajian Ilmu yang berkaitan dengan sanad, yakni Ilmu Rijal al Hadis.

Di dalam buku Metodologi Ilmu Rijalil Hadis yang ditulis oleh Suryadi, M.Ag ini terbagi atas lima bab :

1. Sekitar bahasan Ilmu Rijalil Hadis

2. Ilmu Tarikh Ar Ruwah

3. Ilmu Jarh wa Ta’dil

4. Kajian Metodologis Ilmu Rijalil Hadis

5. Aplikasi Penelitian Rijalil Hadis

BAB I (SEKITAR BAHASAN ILMU RIJALIL HADIS)

A. Ilmu Rijalil Hadis

Sebagai salah satu cabang dari Ulumul Hadis, Ilmu Rijalil hadis adalah ilmu yang secara spesifik mengupas keberadaan para rijal hadis atau para rawi atau pembawa hadis. Ilmu Rijalil Hadis memiliki dua cabang atau dua scope bahasan yakni Ilmu Tarikh ar Ruwah yang membahas sejarah dan biografi rawi dan Ilmu Jarh wa ta’dil yang mengkaji rawi dari segi justifikasi/penilaian kualitas rawi.

Munculnya ilmu Rijalil hadis menjadikan manusia sebagai subjek (kritikus hadis) sekaligus sebagai obyek (rawi yang diteliti). Benih benih ilmu Rijalil hadis sebenarnya telah muncul pada zaman Nabi sejak adanya perintah untuk memfilter berita dari sisi “siapa pembawa” berita itu. Namun baru terwujud sebagai bangunan ilmu tersendiri semenjak terkodifikasinya hadis mulai dirintis yaitu pada akhir abad ke 2H. Mengkaji ilmu rijalil hadis berarti mengkaji semua perawi hadis yang terlibat dalam periwayatan. Ini memilki pengertian bahwa ada ratusan ribu rawi yang harus dikaji, oleh karenanya bukan hal mudah untuk mengkaji rijal al hadis dari berbagai aspeknya. Terlebih lagi mengingat kesubyektifitasan para kritikus hadis terhadap ilmu ini, oleh karena itu merupakan hal yang wajar apabila ada seorang rawi yang sama tapi dinilai berbeda oleh beberapa kritikus.

B. Urgensi dan Problematika Ilmu Rijalil Hadis

1. Kritik sanad hadis merupakan hal yang urgen dalam menunjukkan keotentisan sebuah hadis, maka keberadaan ilmu Rijalil hadis tidak bisa dipandang sebelah mata. Kajian ilmu rijalil pada dataran idealitas seharusnya menginformasikan jawaban terkait figur rawi terhadap pertanyaan 5W dan bahkan 1H, tapi pada dataran realitas berbicara lain. Karena kitab-kitab yang digunakan sebagai acuan dalam mempelajari Rijalil Hadis masih dipertanyakan kredibilitasnya, mengingat banyaknya jumlah rawi yang ada yang hidup beberapa abad sebelumnya, apakah mungkin kritikus hadis dapat memeahami secara menyeluruh terhadap ratusan ribu rawi.

2. Persoalan semakin bertambah ketika Ilmu Rijalil Hadis dipandang sebelah mata karena kesubjektifannya. Namun terlepas dari itu semua yang lebih penting bukan sekedar ketidakseragaman penilaian, tapi juga dari segi pengkritik hadis itu sendiri apakah ada persoalan pribadi dengan rawi hadis, apa dasar atau parameter kritikus dalam menilai rawi dan bagaimana kapasitasnya dan apakah spesialisasinya dan metode apa yang dia gunakan. Problematika inilah yang harus dikuak dalam Ilmu Rijalil Hadis.

BAB II ILMU TARIKH AR RUWAH

Yakni ilmu yang mengkaji tentang biografi rawi, kurun hidupnya (tahun lahir dan wafatnya) derah kelahirannya, guru-gurunya, murid-muridnya, negeri-negeri tempat kediaman gurunya, madzhab yang dipegangnya dan lain-lain. Dengan demikian pada prinsipnya ilmu ini memfokuskan diri mengkaji sejarah perjalanan hidup rawi yang terkait dalam perlawatan dan periwayatan hadis. Dalam hal ini tarikh merupakan salah satu cara untuk menolak segala bentuk kedustaan atas nama Nabi SAW.

Mengkaji ilmu tarikh ar Ruwah tidak bisa lepas dari kitab-kitab Ilmu Tarikh ar Ruwah yang ditulis oleh ulama terdahulu. Karena jarak waktu yang terlampau panjang antara perawi hadis dengan kritikus hadis menyebabkan para kritikus membutuhkan dokumen sejarah ulama terdahulu untuk mengakaji ilmu ini. Sejauh mana informasi tentang rawi didapatkan, bagaimana pendekatan yang digunakan dalam mengkaji, bagaimana mengklarifikasi data yang tertinggal dan informasi yang meragukan adalah problem yang umum dialami oleh para pengkaji sejarah ketika berhadapan dengan teks sejarah.

Pada umumnya kitab Tarikh ar Ruwah terbagi menjadi tida, yaitu : kitab-kitab yang menerangkan rawi dari kalangan sahabat, kitab-kitab yang menerangkan rawi dari kalangan umum, kitab-kitab yang menerangkan nama-nama rawi, kunyah-kunyahnya dan nasab-nasabnya.

BAB III ILMU JARH WA TA’DIL

Ilmu Jarh wa Ta’dil, merupakan ilmu yang membahas keadaan para rawi hadis dari segi diterima atau ditolaknya periwayatan mereka. Sejarah perkembangan ilmu Jarh wa Ta’dil seiring dan sejalan dengan perkembangan periwayatan hadis. Namun benih-benih ilmu jarh wa ta’dil telah nampak pada masa Rasulullah ketika Rasulullah pernah memuji Khalid “Sebaik-baik hamba Allah adalah Khalid bin Walid. Dia adalah pedang dari sekian banyak pedang Allah.”

Hal ini berlanjut di kalangan sahabat, tabiin dan seterusnya, dalam hal ini mereka menerangkan kualitas rawi semata-mata dilandasi semangat religius mengharap ridha Allah. Mereka akan mengatakan yang sebenarnya tanpa tenggangrasa, meskipun orang yang dinilai adalah dari kalangan keluarganya sendiri.

Kaedah-kaedah dalam jarh wa ta’dil : dalam menilai seorang rawi, hal yang tidak dapat dihindari adalah munculnya perbedaan antara satu kritikus satu dengan kritikus yang lain. Menyikapi hal yang demikian jumhur muhaddisin menciptakan formulasi khusus untuk melakukan penelitian.

a. Mendahulukan ta’dil atas jarh : hal ini dikarenakan sifat asli yang ada pada perawi adalah sifat terpuji, sedangkan sifat yang tercela muncul belakangan, maka yang diterima adalah ta’dilnya. Postulat ini ditolak oleh sebagian ahli hadis.

b. Mendahulukan jarh atas ta’dil : maksudnya apabila ada seorang rawi yang dinilai tercela oleh seorang kritikus, lalu ada kritikus lain yang menilai terpuji maka yang diterima adalah kritikus yang menilai tercela, karena kritikus yang menilai tercela dinilai lebih paham tentang kehidupan pribadi rawi tersebut. Lalu jika jumhur ulama yang bertendensi sikap husnudhan harus dikalahkan apabila nantinya diketemukan sikap tercela pada rawi yang bersangkutan.

c. Apabila ada kontradiksi antara kritikus yang menilai rawi hadis dengan terpuji sementara yang satu tercela, maka yang dimenangkan adalah kritikan yang terpuji. Kecuali kritikus yang menilai jarh tersebut dapat memberikan bukti-bukti yang relevan yang dapat diterima.

d. Jika kritikus yang menilai tersebut lemah, maka penilaian jarhnya tidak dapat diterima terhadap kritikus yang tsiqqah. Karena kritikus yang tsiqah tentunya lebih cermat dan teliti dalam memebri penilaian.

e. Penilaian jarh tidak dapat diterima jika masih ada keragu-raguan, misalnya adanya kesamaan atau kemiripan antara satu rawi dengan rawi lain.penilaian akan diterima jika sudah ada kepastian.

f. Penilaian jarh yang dilandasi masalah pribadi anatara rawi yang diteliti dengan kritikus tidak diperhitungkan atau ditolak.

Tingkatan lafadh Jarh dan Ta’dil.

Di antara para ulama tidak ada kesepakatan dalam menentukan lafadh jarh maupun ta’dil. Oleh karena itu kita menjumpai antara ulama satu dengan yang lain terdapat perbedaan dalam memberikan kategorisasi penilaian. Berikut ini adalah sebagian perbedaan para kritikus hadis.

Lafadh Ta’dil :

Tingkatan I

Ar Razi

Ibnu Shalah

An Nawawi

a. Orang yg tsiqah

ثقة

ثقة

ثقة

b. Orang yang teliti

متقن

متقن

متقن

c. Orang yg kokoh ingatannya

ثبت

ثبت

ثبت

d. Orang yg menjadi hujjah

يحتج

حجة

حجة

e. Orang yang hafal

-

حافظ

حافظ

f. Orang yg kuat hafalannya

-

ضاط

ضاط

g. Orang yg adil

-

-

عدل

Tingkat Kedua

a. Orang yg jujur

صدوق

صدوق

صدوق

b. Orang yg dipandang jujur

محله الصدق

محله الصدق

محله الصدق

c. Tidak ada cacat padanya

لابأس به

لابأس به

لابأس به

Tingkat Ketiga

a. Seorang syaikh

شيخ

شيخ

شيخ

b. Orang yg tengah-tengah

-

-

وسط

c. Orang banyak yg meriwayatkan darinya

-

-

روى عنه الناس

d. Orang yg hadisnya didekati

-

-

مقارب الحديث

Tingkat Keempat

a. Orang yang shalih hadisnya

الحديثصاليح

الحديثصاليح

الحديثصاليح

Lafad Jarh :

Ar Razi, Ibnu Shalah, An Nawawi

Lafadh jarh

Adz Dzahabi

Lafadh jarh

Tingkat I

Tingkat I

a. Seorang pendusta

كذاب

a. Seorang pendusta

كذاب

b. Orang yg ditinggalkan

متروك الحديث

b. Seorang pemalsu hadis

وضاع

c. Orang yg hilang hadisnya

ذاهب الحديث

c. Seorang penipu

دجال

d. Ia memalsu hadis

يضع الحديث

Tingkat II

Tingkat II

a. Orang yg lemah hadisnya

ضعيف الحديث

a. Orang yg tertuduh dusta

متهم بالكذب

b. Orang yg disepakati untuk ditinggalkan hadisnya

متفق علي تركه

Tingkat III

Tingkat III

a. Bukan orang yang kuat

ليس بقوى

a. Orang yang ditinggalkan

متروك

b. Orang yg hilang hadisnya

ذاهب الحديث

c. Bukan orang yg tsiqah

ليس بتقة

d. Didiamkan para ulama keadaannya

سكتوا عنه

e. Orang yg binasa

هالك

f. Orang yg gugur

ساقط

Tingkat IV

Tingkat IV

a. Orang yg lunak hadisnya

لين الحديث

a. Orang yg lemah sekali

ضعيف جدا

b. Orang yg lemah

واه

c. Dilemahkan para ulama

ضعفوه

d. Bukan apa-apa

ليس بشئ

e. Orang yg sangat lemah

ضعيف وواه

Tingkat V

a. Orang yg lunak

لين

b. Di dalamnya ada kelemahan

فيه ضعيف

c. Padanya ada cacat yang menjadi pembicaraan

فيه مقال

d. Bukan orang yg kuat

ليس بالقوه

e. Bukan orang yg menjadi hujjah

ليس بحجه

f. Orang yg dikenal dan diingkari

تعرف و تنكر

g. Orang yg diperbincangkan para ulama

تكلم فيه

h. Orang yg buruk hafalannya

سئ الحفلظ

i. Orang yg dilemahkan hadisnya

يضعف فيه

j. Orang yg diperselisihkan hadisnya

ٳختلف فيه

k. Tidak seberapa

ليس بذالك

l. Orang yg tidak menjadi hujjah

لا يحتج

m. Orang yg jujur tapi melakukan bid’ah

صدوق لكنه مبتدع

Kitab- kitab Jarh wa Ta’dil

1. Berdasarkan thabaqah : ath thabaqat kubra, tadzkirah al huffadh

2. Berdasarkan Rawi secara umum : ath thaarikh al kabir, al jarh wa ta’dil

3. Berdasarkan Rawi dalam kitab hadis tertentu : alhidayah wa al irsyad fi ma’rifah ahli tsiqah wa saddat, rijalu shohihi muslim, al jamu baina rijal ash shahihahini, at ta’rif bi ar rijal al muwattha’, al kamal fi asma arrijal, tahdzhib al kamal, ikmalu tahdzib al kamal, tahdzib at tahdzib, al kasyif, tahdzib at tahdzib, taqrib at tahdzib, khulasah tahdzib tahdzib al kamal, at tadzkiroh bi rijal al asyrah

4. Berdasar kualitas rawi :

a. Rawi-rawi tsiqah : at tsiqaat, at tsiqaat, tarikh asma at tsiqaat min man nuqila anhum al ilmu

b. Rawi-rawi dhaif : adl-dlu’afa’ al kabir, adl-dlu’afa’ ash shagir, adl-dlu’afa’ matrukun, adl-dlu’afa’, ma’rifah al majruhin min al muhadditsin, al kamil fi dlua’fa’ ar rijal, mizan al i’tidal fi naqd ar rijal, lisan al mizan.

BAB IV KAJIAN METODOLOGIS ILMU RIJALIL HADIS

A. Metode Ilmu Tarkh ar Ruwah dan Ilmu Jarh wa Ta’dil

Metode adalah sesuatu yang membedakan ilmu dari pengetahuan biasa. Metode didefinisikan sebagai suatu cara melihat atau memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang dikaji. Melihat realita ilmu Rijalil hadis adalah suatu ilmu yang tidak bisa lepas dari kesubjektifan para kritikus, maka bukan hal yang patut ketika para kritikus menjustifikasi dengan semata mata mengedapankan subyektifitas individu ahli hadis dan menganggap penilaiannya paling benar. Dengan mencermati proses dan prosedur yang dipakai para ulama hadis dalam melakukan aktivitas penilaian terhadap para rawi, menurut penulis buku ini, adalah menerapkan metode komparasi. Dimana kritikus membandingkan komentar antara satu kritikus dengan kritikus lain. Sedangkan metode komparasi dengan dokumen tampak ketika ahli kritik hadis menyusun kitab rijalil hadis dengan kitab yang ada sebelumnya dan berupaya menyempurnakannya.

Kembali lagi kepada suatu metode, metode yang tepat akan tercapai jika kita telah mengetahui apa hakikat objek yang dikaji, dalam hal ini apakah sebenarnya hakikat ilmu Tarikh wa Ruwah dan ilmu Jarh wa Ta’dil. Dalam ilmu Tarikh wa Ruwah dan ilmu Jarh wa Ta’dil, rawi- rawi dalam rangkaian hadis sanad yang dituju untuk dicari data selengkap-lengkapnya, dinilai jarh ta’dilnya serta diterima atau tidaknya periwayatannya.

Dilihat dari karakteristiknya ilmu Tarikh wa Ruwah dan ilmu Jarh wa Ta’dil ini masuk ke dalam kategori ilmu Humanisme, yakni mengkaji manusia, aspek hidupnya, ciri khasnya dan tingkah lakunya. Karena manusia (kritikus) tidak lagi berada di luar obyek (rawi) yang diselidikinya, dipastikan terjadi pengaruh timbal balik tanpa henti antara subyek dan obyek. Oleh karenanya obyektifitasan sangat sulit diwujudkan.

Sebagai bangunan ilmu tersendiri, ilmu Tarikh wa Ruwah dan ilmu Jarh wa Ta’dil memilki konsekuensi untuk mempertahankan keotensitasan hadis melalui jalur sanad yang memang harus jelas dan sah. Didasari oleh semangat ini, para ulama ahli hadis menerapkan beberapa postulat dalam mengkaji ilmu Tarikh wa Ruwah dan ilmu Jarh wa Ta’dil, antara lain :

a. Menentukan objek kajian (rawi) dan kriteria objek meliputi kwalitas pribadinya dan hal- hal yang dapat merusak pribadinya.

b. Menetapkan syarat-syarat sebagai seorang kritikus (sikap, kapasitas dan aturan).

c. Ulama Hadis menetapkan kaidah jarh wa ta’dil.

d. Menerapkan metode komparasi.

Sikap tidak begitu saja menerima hadis yang datang, pada dasarnya didasari oleh 2 metode fundamental yakni meneliti pikiran-pikirannya (melalui karyanya) dan meniliti biografinya (melalui dokumen-dokumen sejarah).

Meniliti dan menjustifikasi rawi adalah bukan pekerjaan mudah, hal ini terkait dengan beberapa hal :

1. Terlalu banyaknya rawi sampai puluhan ribu jumlahnya, mungkinkah seoranh kritikus meneliti semuanya, dan jika hanya menggantungkan kepada data ulama terdahulu apakah itu bisa disebut ilmiah ?

2. Menilai orang yang tidak semasa memang lebih mudah, tapi karena junlahnya terlalu banyak, tidak bisa kita mengutip pendapat orang lain begitu saja.

3. Minimnya informasi yang diberikan oleh kitab Tarikh wa Ruwah dan ilmu Jarh wa Ta’dil menyulitkan para rawi, apalagi banyaknya rawi yang namanya sama atau hampir sama.

B. Analisis Metodologis ilmu Tarikh wa Ruwah

Dalam mengkaji ilmu Tarikh wa Ruwah, penulis mengmbil dua tokoh besar dari zaman yang berbeda, yakni Al Bukhari mewakili zaman klasik, dan Ibnu Hajar Al Asqalani mewakili zaman pertengahan. Penulis ingin mengkaji bagaimana metode mereka dalam meniliti biografi dari dua sudut pandang ulama. Berikut kesimpulan hasil penelitiannya :

Metodologi Al Bukhari dengan kitabnya Tarikh Al Kabir :

a. Sebagai buku biografi rawi, kitab ini hanya berisi silsilah periwayatan, bukan biografi rawi sebagaimana mestinya.

b. Kriteria shahih menurut Bukhari adalah ketika sanadnya bersambung dengan Nabi SAW, tidak memperhatikan aspek lainnya.

c. Tidak menjelaskan kurun waktu hidup rawi yang bersangkutan, jadi bagaimana kita bisa tahu apakah dia benar-benar sahabat Nabi atau bukan jika kurun hidupnya saja kita tidak tahu.

d. Kitab Tarikh al Kabir berisi data 12.305, logisnya dengan jumlah sekian banyak tentunya penelitian memakan banyak waktu dan penelitian yang panjang. Kesimpulannya kitab Tarikh al Kabir ini masih perlu dipertanyakan lagi dari segi kerepresentatifnya sebagai kitab Tarikh ar Ruwah.

Metodologi Ibnu Hajar Al Asqalani dengan kitabnya Al Ishabah fi Tamyiz ash Shahabah :

a. Kurang lebih sama dengan al Bukhari, kurang memperhatikan biografi rawi secara mendetail. Hanya pada silsilah periwayatan sampai kepada Nabi SAW.

b. Ibnu Hajar banyak menisbatkan pendapatnya pada ulama sebelumnya, karena tidak semua data yang ia kumpulkan adalah hasil dari penelitian ia sendiri.

Kesimpulan yang dapat kita tarik dari dua kajian metodologis tersebut di atas, baik kitab Tarikh al Kabir dan Al Ishabah fi Tamyiz ash Shahabah masih dipertanyakan kedribilitasnya sebagai kitab Tarikh ar Ruwah dan perlu didukung kitab lain. Secara kuantitas memang banyak sekali rawi yang dicantumkan dalam kedua kitab tersebut namum kurang lengkap dan mendetail pembahasannya.

C. Analisa Metodologis ilmu Jarh wa Ta’dil :

Dalam analisis metodologis ilmu Jarh wa Ta’dil, penulis menyoroti dua ulama besar yaitu Ibnu Abi Hatim ar Razi dengan kitabnya Jarh wa Ta’dil yang mewakili masa klasik, dan Ibnu Hajar Al Asqalani dengan kitabnya Tahdzib at Tahdzib. Kedua ulama ini meneliti empat rawi yang sama yakni Abd. Madjib bin Wahab, Khalid bin Ad. Rahman bin Khalid bin Salamah al Makhzumi, Humaid bin Abd. ar Rahman bin Auf, dan Ahmad bin Al Mufadldlal Inqiry. Dari data yang dipaparkan oleh penulis maka ditarik kesimpulan bahwasannya kedua ulama tersebut hampir sama metodenya dalam menulis kitabnya walaupun pada zaman yang berbeda :

1. Tidak disertai informasi yang lengkap tentang biografi rawi yang dinilai, apalagi dianalisa melalui pendekatan sosial.

2. Adanya penisbatan penilaian pada kritikus lain

3. Adanya penilaian (terutama penjarhan) tanpa didasari argumen yang jelas.

4. Adanya kritikus yang menilai berpuluh ribu rawi tanpa ada yang mempertanyakan tingkat keakurasiannya.

5. Adanya kecenderungan melakukan pengutipan pada kitab jarh wa ta’dil yang telah ada sebelumnya, jadi pada dasranya penilaian kritikus hanya pengalihan dari kitab sebelumnya.

Dari data di atas sekilas memang terlihat memprihatinkan, karena ilmu Jarh wa Ta’dil ada pada dataran ilmu empiris manusia, maka sudah selayaknya aktivitas kritikusnya harus didasarkan pada kaedah keilmuwan. Penilaian kritikus terhadap para rawi yang memilki tujuan menentukan diterima atau ditolaknya periwayatan mereka, seharusnya dilengkapi dengan data yang komprehensiftentang rawi yang dinilai bahkan jika memungkinkan tidak sekedar pendekatan sejarah yang terlibat, tapi juga pendekatan ilmu-ilmu sosial lain yang juga terlibat, seperti Sosiologi dan Antropolgi perlu dipertimbangkan keberadaannya.

BAB V APLIKASI PENELITIAN RIJALIL HADIS

Di dalam bab kelima buku ini, secara spesifik dikemukakan beberapa contoh penelitian terhadap rijal hadis yang bersumber dari beberapa kitab rijal hadis. Kami sengaja cantumkan hanya satu tokoh yakni Muhammad bin Yazid, dan agar ringkasnya kami simpulkan biografi serta mengenai kualitasnya (jarh wa ta’dilnya) dengan menukil kitab yang paling lengkap setelah membandingkan dari beberapa kitab yang dicantumkan di buku. Hasilnya adalah sebagai berikut :

Rijal yang diteliti : Muhammad bin Yazid

Data Informasi:

Nama lengkap: Muhammad bin Yazid bin Sinan

Laqab/kunyah: al-Tamimi, al-Harawi, Abu ‘Abdillah bin Abi Farwah al-Rahawi al-Jazari

Lahir/wafat/kurun hidup: Lahir tahun 132 H, wafat tahun 220 H

Guru-gurunya: Ayahnya, kakeknya, Ma’qil bin ‘Abdillah, Ibn Abi Dzi’b, Yazid bin ‘Iyadh bin Ja’dabah, Ustman bin ‘Umar bin Saj al-Jazari, ‘Abdullah bin Hudair, dan lain-lain.

Penilaian Ulama:

Menurut Ad-Daruquthni: Dhaif

Menurut An-Nasa’i: Bukan termasuk rawi yang kuat

Menurut Abu Hatim: Beliau adalah orang yang shaleh dan terpercaya

Menurut Al-Nafa’i: Beliau bukan termasuk rawi yang kuat periwayatannya

Menurut Al-Tirmidzi: Beliau dha’if

Menurut Al-Hakim dan al-Musallamah: Tsiqah

Sumber kitab :

1. Kitab Tarikh al Kabir karya Abu Abdillah Ismail bim Ibrahim al Ju’fial Bukhari (Beirut : Darul Kutub al Islamiyah, 1989M)

2. Kitab Jarh wa Ta’dil karya Ibn Hatim ar Razi (Beirut : Darul Kutub al Ilamiyah, tt)

3. Kitab Mizan al I’tidal fi Naqd al Rijal karya Muhammad bin Ahmad Adz Dzahabi (Dar Ihya al Arabiyah, 1963 M).

4. Lisan al Mizan karya Ibn Hajar al Asqalani ( Muassah Alami li al Mathuhat, tt)

5. Tahdzib at Tahdzib karya Ibn Hajar al Asqalani (Beirut : Dar Ihya al Turats al Arabi, 1913 M)

6. Mausuah Rijal al Kutub al Tisah (Beirut : Darul Kutub al Ilamiyah, tt)

Analisis :

Menurut tinjauan kami, buku Metodologi Ilmu Rijalil Hadis karya Drs. Suryadi, M.Ag yang kami teliti menekankan bahwa studi ilmu rijal Hadis juga perlu tampilan dan kontribusi dari berbagai ilmu. Karena sementara ini, kajian terhadap Ilmu Rijal Hadis hanya dilihat dari satu disiplin ilmu, yaitu Ulmul Hadis. Inilah yang menjadikan Ilmu Rijalil Hadis seolah-olah telah sampai pada tataran final yang tidak bisa diganggu gugat. Oleh sebab itu metode dan pendekatan dari ilmu-ilmu lain seperti ilmu-ilmu sosial juga perlu ditumbuh kembangkan. Misalnya antropologi, sosiologi, sejarah, psikologi dan sebagainya.

Kelebihan buku :

1. Menggunakan bahasa yang jelas, lugas dan mengena, serta menggunakan istilah yang mudah dipahami.

2. Penyebutan secaramenyeluruh tingkatan Jarh dan Ta’dil dari berbagai kritikus hadis.

3. Menyebutkan secara lengkap contoh kitab pada masing-masing disiplin ilmu.

4. Dalam menngemukakan analisis metode pada tataran ilmu Tarikh ar Ruwah dan Jarh wa Tadil menggunakan perbandingan beberapa penjabaran kritikus hadis dan kemudian menarik kesimpulan.

5. Menawarkan metode pendekatan sosiologi, antroplogi , sejarah dsb, tidak hanya dengan pendekatan Ulumul Hadis.

Kekurangan Buku :

1. Belum bisa menjawab problematika dan polemik kesubjektifan ilmu Rijalil Hadis.

2. Mencamtumkan perbandingan kritikus yang hasilnya sama.

3. Melakukan pengulangan-pengulangan bahasa.

Copyright © 2009 - Laftlaft Etikazisme - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template